Minggu, 30 September 2018

Cerita Senja Malam Sabtu



"Terima kasih untuk sepersekian detik kata-katamu yang telah merubuhkan menara asa ku kepadamu.  Aku tak menyalahkanmu lagi. Pergilah jika mau pergi,  aku tak mengikatmu lagi. Terbanglah,  carilah induk semang. Atau kau hendak mencari kawan?  Pergilah kemana hatimu mengarahkan kemana egomu memberatkan. Segalanya yang kau ucapkan benar. Aku tak bisa menjadi apa yang mau kehendaki. Karena aku hanya anak dari ayah dan ibuku. Seorang anak yang masih mengharapkan masa depan yang lebih cerah dengan belajar dari banyak hal. Mungkin.. , tidak,  lebih tepatnya,  hari ini kamu telah mengajarkan aku banyak hal. Bahwa rupa itu bisa mengalahkan niat baik yang ada. Ternyata, memahami itu lebih wajib bagiku daripada memintamu memahamiku.
Wanita ini,  membutuhkan seseorang laki-laki yang dapat membimbing bukan laki-laki yang untuk dibimbing,  karena sejatinya laki-lakilah sang pemimpin.
Aku tak pernah mempermasalahkan rupa dan pekerjaan. Harus jadi apa seseorang itu kelak. Aku hanya membutuhkan orang yang sabar hatinya,  lebar pengampunannya,  serta tinggi dalam orientasinya. Apakah salah aku meminta kepadamu pada hari itu?  Aku tak meminta harta,  tak meminta tahta,  atau meninggalkan wanitamu." begitulah ceritaku pada senja malam sabtu yang hanya membisu yang tak kunjung memberikan jawaban.

Katakan padaku kawan, lebih memilih mana; menjalankan kewajiban untuk mendapatkan hak atau menuntut hak untuk menjalankan kewajiban?



-Ast-